STRUKTUR ORGANISASI YAYASAN DAN UNIVERSITAS KRISNADWIPAYANA


DEWAN PEMBINA YAYASAN UNKRIS

Ketua : Prof. Dr. T. Gayus Lumbuun, SH, MH

Sekretaris : Drs. H. Ton Kertapati

Wk. Sekretaris : Budiman Prawirasapoetra

Anggota : Prof. Darji Darmodiharjo, SH
BADAN PENGAWAS YAYASAN UNKRIS

Ketua : DR.H.M. Jasir Alwi, SE., SE.,MM.,MBA

Sekretaris : Amir Karyatin, SH

Anggota
Ir. H.A. Djoko Setyowidodo, MM, MSI
BADAN PENGURUS YAYASAN UNKRIS

Ketua : Dr. M. Iman Santoso, SH, MH, MA

Sekretaris : Drs. I Wayan Sugiana, MM

Bendahara : Matheus Rukmasaleh Arif

Anggota : Dr. Ir. Sahala Lumban Gaol, MA


: Drs. Budi Setiawan


: Dr. H. Syarief Hasan, SE, MM, MBA


: Juniver Girsang, SH, MH
PIMPINAN UNIVESITAS/FAKULTAS/PASCASARJANA

UNIVERSITAS



REKTOR : Dr. Lodewijk Gultom, SH, MH.


PEMBANTU REKTOR I : Dr. T. Herry Rachmatsyah, S.Sos, SE, MM, M.Si


PEMBANTU REKTOR II : Drs. Puguh Santoso, MM, M.Si


PEMBANTU REKTOR III : Drs. Mulyana Rachim







FAKULTAS



FAKULTAS HUKUM




DEKAN : Prof. Dr. CFG. Sunaryati Hartono, SH



PEMBANTU DEKAN I : Dr. Erna Widjajati, SH, MH



PEMBANTU DEKAN II : Hartono Widodo, SH, M.Hum



PEMBANTU DEKAN III : Dra. Hj. Indrihadi Isnaeni, M.Sc


FAKULTAS EKONOMI




DEKAN : Drs. Abdul Rivai, M.Si



PEMBANTU DEKAN I : Dr. Suharto, M.Sc



PEMBANTU DEKAN II : Drs. Wagiarto Husein, M.Si



PEMBANTU DEKAN III : Drs. Mulyana Rachim


FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI



DEKAN : Drs. Dwiheru Kristiawan, M.Si



PEMBANTU DEKAN I : Drs. Subagio S, Waluyo M.Si



PEMBANTU DEKAN II : Dra. Hj. Linda Ismail, M.Si



PEMBANTU DEKAN III : Drs. Edward Doloksaribu, M.Si


FAKULTAS TEKNIK




DEKAN : Ir. Bagijo, Dipl. HE



PEMBANTU DEKAN I : Ir. Amar Sukirno



PEMBANTU DEKAN II : Ir. Nurwono, NMA



PEMBANTU DEKAN III : Ir. Kusnadi







PASCA SARJANA



PROGRAM STUDI MAGISTER MANAGEMAN



KETUA : Dr. H. Prista Tarigan, SE, M.Si



SEKRETARIS : Dr. Suharto, M.Sc


PROGRAM STUDI ILM HUKUM



KETUA : Prof. Dr. CFG. Sunaryati Hartono, SH



SEKRETARIS : Dra. Hj. Istiarti A. Sigit, M.Si


PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU ADMINISTRASI



KETUA : Drs. H. Edo Wasdi, M.Si



SEKRETARIS : Drs. Puguh Santoso, MM, M.Si


PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNIK



KETUA : Prof. Dr. Ir Budhi Tjahjati, S.,M.Sc



SEKRETARIS : Ir. Norma Kumalawati, MM, MT
SENAT UNKRIS
Ketua Merangkap Anggota : Dr. Lodewijk Gultom, SH, MH
Anggota
1
  Dr. T. Herry Rachmatsyah, S.Sos., SE.,MM.,M.si

2
  Drs. Puguh Santoso, MM.,M.Si

3
  Drs. Mulyana Rachim

4
  Prof. Dr. CFG. Sunaryati Hartono, SH

5
  Drs. Abdul Rivai, M.Si

6
  Drs. Dwiheru Kristiawan, M.Si

7
  Ir. Bagijo, Dipl. HE

8
  Prof. Darji Darmodiharjo, SH

9
  Dr. H. Prista Tarigan, SE.,M.Si

10
  Drs. H. Edo Wasdi, M.Si

11
  Prof. Dr. Ir. Budhi Tjahjati, S.,M.Sc

12
  Dra. Hj. Istiarti A. Sigit, M.Si

13
  Prof. Dr. Payaman J. Simanjuntak, APU

14
  Prof. Dr. W.P. Napitupulu

15
  Prof. Dr. T. Gayus Lumbuun, SH.,MH

16
  Prof. Dr. T.O. Ihromi, SH.,MH

17
  Prof. Dr. Indriyanto Seno Adji, SH.,MH

18
  Prof. Dr. H. Soebagio Sastrodiningrat, MPA

19
  Prof. Dr. J.H. Sanaulan, SE.,SH

20
  Prof. Dr. Saleh Sjafradji

21
  Prof. Dr. R.F. Saragih, SH

22
  Prof. Dr. Bintan R. Saragih, SH

23
  Hartono Widodo, SH.,M.Hum
 

Sejarah Universitas Krisnadwipayana


PDF Cetak E-mail
MAKNA KRISNADWIPAYANA
Dalam khasanah cerita wayang, berbagai cerita yang ada, pada umumnya bersumber pada dua cerita besar, yaitu Ramayana dan Mahabarata. Ramayana mengisahkan perang besar antara Prabu Ramawijaya (Si Baik) melawan kekuatan Prabu Dasamuka (Si Buruk) yang diakhiri dengan kemenangan Prabu Ramawijaya. Mahabarata menceritakan perang besar antara keluarga Bharata (Bharata Yudha), yaitu antara kekuatan Pandawa (Si Baik) melawan kekuatan Kurawa (Si Buruk), yang berakhir dengan kemenangan di pihak kekuatan Pandawa. Krisnadwipayana, berasal dari cerita Mahabarata.
Konon kabarnya, para leluhur keluarga Bharata pada umumnya terdiri atas para Begawan/Resi. Cikalbakal pertama adalah Begawan Manumayasa, menurunkan Begawan Sakrutrem, menurunkan Begawan Sakri, menurunkan Begawan Palasara, dan akhirnya menurunkan Prabu Krisnadwipayana.
Prabu Krisnadwipayana menjadi raja di negeri Astina dan mempunyai tiga putera, yaitu Destarata (buta), Pandudewanata (tengeng), dan Yomowiduro (pencik). Destarata mempunyai putra 100 jumlahnya, yang terkenal dengan nama Sata Kurawa (Sata : seratus), sedang Pandudewanata berputra lima yang terkenal dengan Pandawa Lima.
Semenjak anak-anak antara Sata Kurawa dengan Pandawa Lima tidak rukun dan selalu berkelahi dan Pandawa Lima selalu mengalah. Karakter mereka berlawanan. Sata Kurawa cenderung jahat dan menyenangi hal-hal yang bersifat keduniawian, rakus dan ingin menang sendiri. Sebaliknya Pandawa Lima berkarakter baik, senang tirakat, penuh pengabdian kepada sesama dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur. Pada saat remaja mereka
mendapat guru yang tidak baik, yaitu Begawan Durna. Di samping melatih olah kanuragan yang baik, is juga mengajarkan hal-hal yang kurang baik. Sata Kurawa senang dengan Begawan Durna ini, sedang Pandawa Lima kurang menyenanginya. Dengan demikian bibit perang Bharata Yudha sudah muncul sejak masih kanak-kanak. Karena karakter yang berbeda di mana Sata Kurawa berkarakter buruk sedang Pandawa Lima berkarakter baik. Karakter buruk dari Sata Kurawa menjadi lebih parah dengan memperoleh guru yang kurang baik.
Pada saat dewasa, karena Sata Kurawa berada di pihak yang lebih tua, memperoleh hak untuk menguasai Astina, dengan Duryudana (yang tertua) menjadi raja. Sedang nasib Pandawa Lima tersingkir keluar kerajaan Astina, dan mendirikan kerajaan sendiri dengan nama Amarta, dengan Dharmakusuma (yang tertua) menjadi raja. Suasana hubungan antara saudara sepupu yang tidak baik semenjak kanak-kanak , berkembang terus semakin parah. Akibatnya hubungan antara kedua negara (Astina dan Amarta) semakin parah pula. Pihak Astina didampingi oleh Begawan Durna, sedang Amarta didampingi oleh Begawan Abiasa yang arif dan bijaksana.
Pada saat Sata Kurawa menjadi penguasa di Astina, Pandawa Lima memisahkan diri serta mendirikan negara sendiri (Amarta). Pada saat itulah Prabu Krisnadwipayana memutuskan untuk lengser, dan mandito di pertapaan Candi Sapta Arga (Sapta ; tujuh, Arga : gunung) dengan nama Begawan Abiasa. Di pertapaan itu sebagai Begawan/Resi, Begawan Abiasa memusatkan diri pada kehidupan kerohanian dan mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa. Walaupun demikian Sang Begawan tidak sama sekali melepaskan dunia. Artinya perhatian pada dunia diwujudkan dalam bentuk :
  1. Menekuni Ilmu Agama, Filsafat dan Ilmu Pengetahuan khususnya Ilmu Pemerintahan ;
  2. Mendidik cucu-cucunya tentang ketiga ilmu tersebut. Para cucu itu tidak lain adalah Sata Kurawa dan Pandawa Lima. Walaupun yang rajin dan mematuhi ajaran Sang Begawan/Sang Eyang adalah Pandawa Lima beserta keturunannya.
Paralel dengan perjalanan waktu perscteruan antara Astina dan Amarta berjalan terus. Pihak Astina selalu mencari cara untuk menghancurkan pihak Amarta dengan jalan antara lain berusaha membunuh tokoh-tokohnya, tetapi tidak berhasil, sebaliknya pihak Amarta selalu berjuang untuk kebaikan, kebenaran dan keadilan serta menolong sesama. Sambil tidak lupa selalu rajin menghadap Eyangnya di pertapaan Candi Sapta Arga untuk minta ajaran dan petunjuk dalam meningkatkan Dharma Bhakti Ksatria kepada sesama dan dunia.


SEKILAS PERAN KRISNADWIPAYANA DALAM PERANG BHARATA YUDA
Adanya perang besar Bharata Yudha, demikian pula perang besar dalam cerita Ramayana, rupanya memang sudah kodrat Yang Maha Kuasa. Karena hanya dengan melalui perang besar itu keburukan, kejahatan, kerakusan, dan ketidakadilan dapat ditumpas habis, serta kebaikan, kebenaran, kejujuran dan keadilan dapat ditegakkan. Dengan lain perkataan perang besar harus terjadi sebagai wahana tertumpasnya sampai tuntas di angkara murka dan demi tegaknya kebenaran dan keadilan di muka bumi.
Dalam perang Bharata Yudha, yaitu perang antara keluarga Bharata (Kurawa dan Pandawa), Krisnadwipayana, yang saat itu sudah mundur dari
hidup keduniawian dan memusatkan diri pada kehidupan kerohanian, peran sebagai Begawan Abiasa, sifatnya tidak langsung, tidak secara phisik melainkan melalui :
  1. Olah spiritual, dalam wujud permohonan kepada Yang Maha Kuasa agar kemenangan berada di pihak yang baik, benar dan jujur, demi kebahagiaan seluruh umat dan kelestarian dunia. Dengan demikian dia mengabtraksikan dan menguniversalkan perannya tidak untuk Kurawa atau Pandawa, akan tetapi untuk kemanusiaan dan dunia secara keseluruhan. Sikap itu diambil, karena kedua pihak yang berperang itu adalah cucu-cucunya sendiri.
  2. Pemberian doa restu kepada murid-muridnya, yang disela-sela perjuangan di medan perang, memerlukan datang untuk mewujudkan dharma baktinya kepada leluhumya dan sekaligus mohon doa restu. Walaupun tidak bisa dipungkiri, yang sering datang menghadap ke Pertapaan Candi Sapta Arga, kenyataannya adalah pihak Pandawa.
Dalam pelaksanaan perang besar Bharata Yudha, pihak Kurawa (Astina) atau pihak angkara murka, dibantu oleh sekutunya, yang terdiri dari raja-raja dari berbagai negara dan Pandita Duma sebagai penasehat. Sedang pihak Pandawa (Amarta) dibantu oleh keluarga sendiri, raja-raja yang masih ada hubungan keluarga yang sama-sama menjunjung tinggi kebaikan, kebenaran dan keadilan, dengan didampingi raja Dwarawati sebagai penasehat dan pengatur strategi perang.
Singkat cerita, akhirnya perang besar, Bharata Yudha berakhir, dengan kemenangan berada di pihak Pandawa. Artinya, Kurawa dengan sekutunya, kaum angkara murka ditumpas habis oleh Pandawa.
Sata Kurawa (yang jumlahnya 100) itu semuanya mati, sedang Pandawa yang jumlahnya hanya lima orang masih utuh hidup kelima-limanya. Walaupun perlu diketahui, korban di pihak Pandawa adalah para raja yang masih keluarga dan keturunannya, diantaranya adalah putera-putera Pandawa sendiri, termasuk senopati perang, Gatutkaca dan Angkawijaya.
Dengan berakhirnya perang besar Bharata Yudha, dua kerajaan dari Bharata, yaitu Astina dan Amarta disatukan menjadi kerajaan Astina, dengan keluarga Pandawa menjadi pihak yang memegang tampuk pimpinan. Kemudian dimulailah upaya untuk membangun kembali kerajaan Astina setelah hancur, porak poranda akibat perang besar Bharata Yudha.
Kemudian daripada itu, konon kabarnya pada suatu hari, Begawan Abiasa (Krisnadwipayana) turun dari Pertapaan Candi Sapta Arga, berjalan, melihat-lihat keadaan Astina, pasca perang. Begawan Abiasa termangu-mangu dan sedih menyaksikan kerusakan dimana-mana dan rakyat menderita lahir dan batin. Pada saat suasana batin seperti itu, mendadak sontak terdengar tangis bayi yang baru lahir. Mendengar tangis bayi itu Sang Begawan tersenyum penuh makna dan bahagia. Adapun makna senyuman itu ada tiga macam :
  1. Sang begawan tahu bayi yang lahir itu adalah cucu dari cucunya, jadi masih darah keturunannya sendiri;
  2. Sang Begawan juga tahu, bahwa nama bayi itu adalah Parikesit;
  3. Sang Begawan juga maklum, bagaimana hidup dan kehidupan Parikesit di masa yang akan datang.
Pada saat merenung, sambil tersenyum penuh bahagia itu, konon kabarnya Begawan Abiasa terus wafat. Bahagia karena mengetahui keadaan rakyat dan kerajaan Astina serta dunia di masa yang akan datang. Akhirnya, memang benar kata si empunya cerita, pada masa dewasa, Parikesit menjadi raja besar, memimpin negeri Astina (seperti leluhumya Krisnadwipayana). Prabu Parikesit, memimpin kerajaan dan rakyat Astina dengan arif dan bijaksana, penuh kejujuran dan keadilan. Di bawah pimpinannya negeri Astina menjadi negeri yang subur, adil dan makmur, rakyatnya cukup pangan, cukup sandang, dan cukup papan, serta sehat lahir batin. Keadaan itu menular kenegara-negara lain, dan mempengaruhi ketertiban perdamaian serta tata pergaulan dunia. Pada gilirannya hal itu berimbas pada ketertiban, keindahan dan kelestarian alam raya beserta sistem universalnya. Dalam perwujudannya sekarang ketenaran namanya diambil dan diabadikan oleh para pendahulu sebagai nama lembaga Pendidikan Tinggi dengan nama "UNIVERSITAS KRISNADWIPAYANA" (UNKRIS).


SEJARAH UNIVERSITAS KRISNADWIPAYANA
Berdirinya UNKRIS dirintis oleh Bapak D. Usman Iman pada bulan Pebruari 1952, dengan membuka konsulat Balai Perguruan Krisnadwipayana yang berpusat di Bandung. Konsulat tersebut menyelenggarakan kuliah tertulis jurusan hukum, serta membuka beberapa sekolah menengah dan sekolah kejuruan di Kebayoran, Serang, dan Tangerang. Untuk menampung aspirasi pembangunan guna mengisi kemerdekaan, di Kota Bandung didirikan Badan Usaha Rakyat yang dirintis oleh bekas pejuang R.I.. Badan usaha tersebut antara lain mempunyai program dalam bidang pendidikan dan kesehatan, serta sebagai sarana operasionalnya dibentuk Balai Perguruan Krisnadwipayana.
Balai perguruan tersebut terus berkembang, kemudian dibentuk Perguruan Tinggi Krisnadwipayana dengan Fakultas Hukum dan Ekonomi yang mengadakan kuliah lisan di Jalan Abon Nomor 3 Bandung. Selain kuliah tertulis yang diikuti oleh tidak kurang dari 1200 mahasiswa dari segenap pelosok tanah air seperti Ujung Pandang, Banjarmasin, Denpasar, Medan, Palembang, Surabaya, Semarang, dan Kupang.
Pada beberapa kota diadakan Perwakilan/Konsulat yang menampung/ menyalurkan kuliah-kuliah tertulis tersebut. Beberapa Konsulat tersebut kemudian ada yang menjadi embrio Perguruan Tinggi di kota/daerah yang akhirnya ada yang berkembang menjadi Universitas Negeri.
Atas desakan para mahasiswa, didirikan Akademi Hukum dan Sosial Krisnadwipayana di Jakarta yang memberikan kuliah secara lisan. Akademi tersebut yang dibuka resmi pada tanggal 1 April 1952 dengan diikuti oleh sekitar 300 mahasiswa.
Untuk kantor dan ruangan-ruangan kuliah disewa di Adhuc-stat dan saat ini gedung Adhuc-stat tersebut menjadi Kantor Bappenas.


BENTUK AKADEMI MENJADI PERGURUAN TINGGI
Pada awal berdirinya UNKRIS, yaitu pada tanggal 1 April 1952, Universitas tersebut berbentuk Akademi Hukum dan Sosial di bawah pimpinan Dr. R. Sadikun. Untuk memenuhi permintaan para mahasiswa, maka pada tanggal 1 Juli 1952 Akademi Hukum dan Sosial diubah bentuknya menjadi Perguruan Tinggi dan namanya diubah menjadi Fakultas Hukum/Sosial. Di camping itu mengingat minat dan desakan masyarakat , maka pada tanggal 1 Juli 1952 didirikan juga Fakultas Ekonomi di bawah pimpinan Ong Eng Die. Untuk menyelenggarakan sebagian perkuliahan Fakultas Ekonomi, disewa gedung Hygiene Universitas Indonesia di Pegangsaan Timur. Nama Perguruan Tinggi tersebut diubah menjadi Universitet dan kemudian menjadi Universitas sesuai dengan ketentuan Pemerintah.


YAYASAN UNIVERSITAS KRISNADWIPAYANA
Pada waktu berdirinya UNKRIS tidak didirikan oleh suatu Yayasan. Sesuai dengan kebutuhan dan desakan Persatuan Mahasiswa Krisnadwipayana yang diketuai oleh Bapak Soeprabowo, serta untuk lebih memantapkan usaha dalam penyelenggaraan Universitas, maka pada tahun 1954 dibentuk Yayasan yang diberi nama "Yayasan Universitas Krisnadwipayana", yang disahkan dengan Akte Notaris Sie Kwan Djioe dengan Nomor 134 tanggal 29 Januari 1954.
Dengan didirikannya Yayasan, maka :
  1. Yayasan berdiri "Zelfstandig" (mandiri) dan ada kepastian hukum.
  2. Yayasan tidak ada hubungan lagi dengan Konsulat Krisnadwipayana.
  3. Yayasan mempunyai harta kekayaan tersendiri, dan terpisah dari kekayaan pribadi Pengurusnya.
  4. Pengelolaan Bidang Akademis, Administrasi, dan Keuangan akan berjalan secara tertib dan efisien.
Terbentuknya Yayasan belum dapat menambah kelancaran jalannya Universitas, karena dalam usaha mencari cumber pemasukan keuangan belum dapat ditemukan jalan yang tepat. Akhirnya pada bulan Oktober 1954 dibentuk sebuah Badan Usaha Yayasan dengan tugas mengurus rumah tangga dan tata usaha Unversitas.


PENGANGKATAN DEKAN DAN DOSEN
Di samping itu, guna membantu kelancaran usaha Yayasan dipekerjakan juga seorang dosen dan enam orang mahasiswa.
Sementara itu pada pertengahan tahun kuliah 1954/1955 terjadi penggantian/pengukuhan Dekan Fakultas sebagai berikut :
Dekan Fakultas Hukum/Sosial            : Mr. Oemar Seno Adjie
Dekan Fakultas Sosial                       : Prof. Dr. Ong Eng Die
Sebagai hasil dari pembentukan Badan usaha, penyelenggaraan Universitas menjadi lebih lancar dan dapat mengangkat beberapa dosen baru.
Sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada saat itu, walaupun dengan kemampuan yang relatif serba terbatas, pada tahun 1956 UNKRIS membuka satu Fakultas lagi, yakni Fakultas Ilmu Tata Praja yang dipimpin oleh Prof. Mr. Prajudi Atmosoedirdjo. Pada akhirnya setelah mengalami beberapa kali perubahan nama, maka dengan surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor : 0333/85 diubah namanya dari Fakultas Ilmu Administrasi Negara dan Niaga menjadi Fakultas Ilmu Administrasi (FIA). Selanjutnya guna memenuhi ketentuan yang tercantum pada Undang-Undang Nomor 22 tahun 1961 dan kemampuan Yayasan/Universitas serta memperhatikan kebutuhan masyarakat, pada tahun 1963 UNKRIS membuka lagi satu Fakultas, yakni Fakultas Teknik yang dipimpin oleh Ir. Widodo.

Fakultas Hukum
Pada awal berdirinya yaitu pada tanggal 1 April 1952 disebut Akademi Hukum dan Sosial yang merupakan pendidikan akademi dibawah pimpinan Mr. Soemartono Djojodihardjo. Demi pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan serta mencerdaskan kehidupan bangsa, maka para pengelola mengembangkan Akademi Hukum dan Sosial menjadi Fakultas Hukum. Dalam perkembangan selanjutnya selama 14 tahun melaksanakan pendidikan, Fakultas Hukum mendapat pengakuan dari pemerintah melalui SK Menteri PTIP No. 39/1966, Fakultas Hukum diberi status disamakan dengan Perguruan Tinggi Negeri dan saat ini sudah terakreditasi dengan peringkat A oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi.

Fakultas Ekonomi
Fakultas Ekonomi berdiri tanggal 1 Juli 1952 dibawah pimpinan Prof. DR. Ong Eng Die untuk memenuhi minat dan desakan masyarakat yang pada waktu itu sangat membutuhkan pendidikan tinggi dalam rangka mengisi kemerdekaan sesuai tuntutan Undang-undang Dasar 1945. Sama halnya dengan Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi berada di bawah naungan Yayasan Unversitas Krisnadwipayana. Tahun 1996 setelah 14 tahun menyelenggarakan pendidikan, oleh Menteri PTIP melalui SK No. 39/1966 diberi satus disamakan dengan perguruan Tinggi Negeri. Pada saat ini Fakultas Ekonomi memiliki dua jurusan/program studi yaitu Manajemen dan Akuntansi yang sudah terakreditasi dengan peringkat B oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi.

Fakultas Ilmu Administrasi
Fakultas Ilmu Tata Praja berdiri pada tanggal 20 September 1957 dipimpin oleh Prof. DR. Prayudi Atmosoedirdjo, SH. Setelah melaksanakan pendidikan ketata-prajaan selama 9 tahun sejak berdirinya, Fakultas Ilmu Tata Praja ini mendapat pengakuan dari pemerintah dengan status disamakan dengan Perguruan Tinggi Negeri melalui SK Menteri PTIP No: 9 tahun 1966. Fakultas Ilmu Tata Praja ini adalah Fakultas Ilmu Tata Praja yang pertama di Indonesia, kemudian diganti namanya menjadi Fakultas Ilmu Administrasi Negara dan Niaga dan sekarang berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor : 0333/0/1985 tanggal 27 Juli 1985 diubah menjadi Fakultas Ilmu Administrasi dengan 2 Jurusan/Program studi yakni Admininistrasi Negara dan Administrasi Niaga, kedua program studi tersebut sudah terakreditasi dengan peringkat A oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi.

Fakultas Teknik
Fakultas Teknik berdiri pada tahun 1963 dipimpin oleh Ir. Widodo dengan 2 Jurusan yakni :
  1. Jurusan Teknik Mesin;
  2. Jurusan Teknik Sipil.
Pembentukan Fakultas Teknik ini adalah untuk melengkapi Fakultas-Fakultas Non-Eksata yang sudah ada di UNKRIS untuk memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Pemerintah bagi suatu Universitas. Tahun 1981 Fakultas Teknik Jurusan Mesin dan Jurusan Sipil diberi status Terdaftar oleh Pemerintah melalui Keputusan Kopertis Wilayah III Nomor : 082/1981 tanggal 23 Februari 1981. Fakultas Teknik yang pada awal pembentukannya mempunyai 2 Jurusan, pada tahun 1982 ditambah 4 Jurusan baru, yakni :
  1. Jurusan Teknik Elektro;
  2. Jurusan Teknik Planologi;
  3. Jurusan Teknik Arsitektur;
  4. Jurusan Teknik Manajemen Industri.
dengan permulaan status "Ijin Operasional" berdasarkan Keputusan Kopertis Wilayah III Nomor: 08/0/1982 tanggal 22 April 1982. Dalam perkembangan selanjutya status "Ijin Operasional" keempat Jurusan Fakultas Teknik tersebut di tas meningkat menjadi Status Terdaftar berdasarkan Surat Keputusan:

  1. Jurusan Teknik Sipil, berdasarkan Surat Keputusan Mendikbud. No. 091/0/1984 tanggal 9 Maret tahun 1984.
  2. Jurusan Teknik Mesin, berdasakan Surat Keputusan Mendikbud. No. 0729/0/1984 tanggal 19 Juni 1984.
  3. Jurusan Teknik Industri dan Teknik Elektro, berdasarkan Surat Keputusan Mendikbud. No. 0583/0/1985 tanggal 19 Nopember tahun 1985.
  4. Dan untuk Jurusan Teknik Arsitektur serta Teknik Planologi, berdasarkan Surat Keputusan Mendikbud. No. 0650/0/1985 tanggal 30 Desember tahun 1985. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya pada tahun 1993 Pemerintah melalui Surat Keputusan Dirjen Dikti No. 490/DIKTI/Kep/1993 tanggal 13 Agustus 1993 memberikan status Disamakan kepada :
  • Jurusan Teknik Elektro Program Studi Teknik Elektro;
  • Jurusan Teknik Sipil Program Studi Teknik Sipil;
  • Jurusan Teknik Arsitektur Program Studi Teknik Arsitektur;
  • Jurusan Teknik Mesin Program Studi Teknik Mesin.
Dalam perkembangannya semua program studi Fakultas Teknik sudah terakreditasi dengan peringkat B oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi. Selanjutnya dalam mengembangkan program studi di Fakultas Teknik, pada tahun 2005 Fakultas Teknik telah mendapatkan ijin operasional untuk pembukaan program studi Teknik Informatika berdasarkan surat dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Nomor : 2846/DiT/2005 tanggal 8 Agustus 2005.
Pascasarjana
Dalam perkembangannya UNKRIS telah membuka Program Pascasarjana Strata 2 (S2), terdiri dari:

  1. Program Magister Manajemen didirikan pada tahun 1993 berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor: 452/DIKTI/Kep/1993 tanggal 27 Juli 1993 dan sudah terakreditasi dengan peringkat B oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi.;
  2. Program Magister Ilmu Hukum didirikan pada tahun 1996 berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor: 376/DIKTI/KEP/1996 tanggal 17 Juli 1996 dan sudah terakreditasi dengan peringkat U (Unggulan) oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi.
  3. Program Magister Ilmu Administrasi didirikan pada tahun 1998 berdasarkan SuratKeputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor: 295/DIKTI/Kep/1998 tanggal 14 Agustus 1998 dan sudah terakreditasi dengan peringkat B oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi.